Setelah InfoEventBand.com mulai dikenal, pekerjaan gue ternyata nggak berhenti di urusan share informasi event.
Mulai banyak karya band yang masuk.
Dan karena gue yang mengelola semuanya, akhirnya gue juga yang harus mendengarkan.
Jadi kalau ditanya siapa adminnya?
**Gue.**
Siapa yang menerima kiriman karya?
**Gue.**
Siapa yang mendengarkan?
**Gue juga.**
Hahaha.
Gue bisa duduk berjam-jam di depan laptop, mendengarkan karya dari berbagai band di Indonesia.
Genrenya macam-macam.
Rock, pop, punk, metal, alternatif, akustik, sampai berbagai karya yang mungkin susah dimasukkan ke satu kotak genre.
Dan di sinilah gue mulai mengalami sendiri bagaimana rasanya melakukan kurasi.
Dalam satu periode bisa ada banyak karya yang masuk.
Tapi yang bisa dipilih cuma sekitar sepuluh.
Jadi mau nggak mau harus ada yang dipilih dan ada yang tidak.
Masalahnya, karya yang tidak terpilih bukan berarti otomatis jelek.
Kadang justru ada karya yang menurut gue sebenarnya layak.
Tapi kalau kursinya cuma sepuluh, ya akhirnya harus ada yang tidak masuk.
**Kadang lagu tidak kalah. Kursinya saja yang habis.**
Itu yang kemudian membuat gue sadar bahwa kurasi sangat subjektif.
Apa yang gue suka belum tentu disukai orang lain.
Apa yang menurut gue cocok untuk InfoEventBand.com belum tentu cocok untuk media lain.
Dan gue juga nggak pernah menganggap diri gue sebagai orang yang paling tahu soal musik.
Gue cuma sedang menjalankan proses memilih dari banyak karya yang masuk.
Karena itu, ketika ada band yang karyanya tidak terpilih, gue beberapa kali berusaha menghubungi mereka.
Bukan untuk menggurui.
Bukan untuk mengatakan musik mereka jelek.
Tapi sekadar menjelaskan bahwa tidak terpilih di satu tempat bukan berarti karya mereka tidak punya nilai.
Gue sendiri juga orang band.
Jadi gue tahu rasanya bikin karya, merekamnya, kemudian berharap ada orang yang mau mendengarkan.
Mungkin itu juga yang membuat gue cukup memahami posisi mereka.
Dalam proses kurasi, gue menemukan banyak hal.
Ada lagu yang secara produksi sederhana, tapi punya karakter.
Ada yang secara teknis bagus, tapi belum tentu cocok dengan selera gue.
Ada yang awalnya biasa saja, tetapi setelah didengarkan beberapa kali ternyata menarik.
Dan ada juga yang dari awal langsung membuat gue berpikir:
“Ini menarik.”
Semua pengalaman itu membuat gue semakin sadar bahwa mendengarkan musik tidak selalu bisa disederhanakan menjadi:
Bagus.
Jelek.
Lolos.
Tidak lolos.
Karena ketika kita memilih dari banyak karya, selalu ada faktor selera, konteks, kebutuhan media, jumlah slot, bahkan kondisi kita sendiri ketika mendengarkan.
Tapi ada satu hal lain yang mulai menarik perhatian gue.
Kadang sebelum orang mendengarkan sebuah karya, mereka sudah lebih dulu melihat sesuatu yang lain.
Nama band.
Nama orang.
Label.
Tampilan.
Reputasi.
Atau sekadar kesan pertama.
Dan gue mulai bertanya-tanya:
Kalau nama bandnya kita hilangkan, apakah kita akan mendengarkan lagu itu dengan cara yang sama?
Pertanyaan itu ternyata bukan cuma muncul dari proses kurasi.
Gue pernah mengalami sendiri sebuah kejadian yang lebih sederhana.
Waktu itu gue pernah membagikan profil Uprealband di Scribd.
Yang download?
Sedikit.
Lalu gue mencoba mengganti nama band pada profil tersebut dengan nama band lain, sementara isi profilnya pada dasarnya masih sama.
Hasilnya?
**Boom.**
Download-nya malah naik.
Nah.
Di situ gue mulai berpikir.
Mungkin orang memang sering memberikan respons terhadap apa yang mereka lihat terlebih dahulu sebelum benar-benar mengalami isinya.
Bukan berarti semua orang seperti itu.
Dan bukan berarti hasil percobaan kecil ini bisa menjelaskan perilaku semua orang.
Tapi pengalaman itu cukup membuat gue penasaran.
Apakah nama bisa memengaruhi cara kita menerima sebuah karya?
Apakah label bisa membentuk kesan sebelum kita mendengarkan?
Dan ternyata, ada istilah yang pernah kami bahas di Uprealband:
**Halo Effect.**
Tapi tenang.
Kita nggak akan bikin pembahasannya jadi kuliah psikologi.
Karena pengalaman gue justru jauh lebih sederhana.
Dan mungkin lebih lucu.
Cerita soal nama, label, Scribd, dan kenapa sesuatu yang sama bisa mendapatkan respons berbeda itu kita lanjutkan di **Part 6**.
**ROCK N REAL.**
🎧 Dengarkan karya Uprealband di Spotify
Klik di sini untuk mendengarkan
