WEBSITE RESMI · DEPOK · SEJAK 2004

UPREALBAND

Band indie asal Depok sejak 2004.
Musik, cerita, proses, dan perjalanan yang terus berjalan.

UPREALBAND
2004—NOW

01 / PINTU UTAMA

Website resmi Uprealband untuk membaca cerita, mendengarkan karya, dan mengikuti apa yang sedang terjadi.

Masuk ke Karya →
02 / UPDATE TERBARU

Yang baru
ditulis.

Catatan dari ruang produksi, arsip lama, dan hal-hal yang belum selesai.

PART 1 Penutup Mata, Kura-Kura Ninja, dan Cara Kita Dengerin Musik (Jurnal Bany Uprealband)


Awalnya gue cuma mau desain ulang thumbnail channel YouTube Uprealband pakai AI.


Konsepnya sederhana. Empat personel Uprealband berdiri bareng, semuanya pakai penutup mata warna orange.


Sampai ada teman yang lihat hasilnya dan nyeletuk:


“Lah, kayak Kura-Kura Ninja aja, bro!”


Hahaha.


Kalau dipikir-pikir memang ada benarnya.


Empat personel Uprealband jadi para ninja.


OBHIK yang biasanya paling ribet kalau urusan utak-atik suara, ya anggap saja Master Splinter-nya.


Karya-karya Uprealband? April O’Neil.


Studio? Markas.


Musuh utamanya?


Waktu dan lupa.


Nah, dari candaan Kura-Kura Ninja itu malah muncul satu pertanyaan:


Kenapa harus pakai penutup mata?


Awalnya memang cuma konsep visual.


Tapi setelah dipikir lagi, ternyata penutup mata itu bisa punya arti lain.


Tentang bagaimana kita mendengarkan musik.


Karena musik yang kita dengarkan lewat rekaman sebenarnya berbeda dengan pengalaman melihat sebuah pertunjukan langsung.


Kalau kita mendengarkan lagu lewat MP3, Spotify, YouTube, WAV, atau headphone, yang kita terima terutama adalah audio.


Suara vokal.


Lirik.


Melodi.


Aransemen.


Instrumen.


Mixing.


Dan tentu saja rasa dari lagu itu sendiri.


Sementara kalau kita melihat band tampil langsung, pengalaman kita menjadi audio-visual.


Kita melihat wajah penyanyi.


Gerak tubuh.


Pakaian.


Lampu panggung.


Ekspresi.


Energi personelnya.


Semua itu ikut memengaruhi pengalaman kita.


Bukan berarti visual itu buruk.


Justru sebagai orang yang pernah berdiri di atas panggung, gue sadar visual juga penting.


Gue sendiri kalau manggung nggak mungkin cuma berdiri diam sambil nyanyi.


Apalagi kalau urusan teknik vokal, gue juga sadar kemampuan gue biasa saja. Jadi penampilan, gaya, ekspresi, dan cara membawa diri di panggung bisa membantu menarik perhatian penonton.


Tapi pada akhirnya tetap ada satu hal yang ingin gue sampaikan:


Lagu yang gue nyanyikan harus tetap bisa sampai ke orang yang mendengarkan.


Bukan cuma kelihatan menarik.


Dan ternyata pemikiran seperti ini pernah gue lakukan jauh sebelum konsep penutup mata ini muncul.


Waktu menjadi juri lomba nyanyi pada 29 November 2013, gue sengaja beberapa kali menutup mata ketika peserta tampil.


Bukan karena ngantuk.


Bukan juga karena sok serius.


Gue cuma ingin mencoba mendengarkan tanpa terlalu dipengaruhi apa yang sedang gue lihat.


Waktu itu gue bahkan bilang lewat mikrofon:


“Saya sih sebenarnya gak begitu jago nyanyi. Dari tadi saya sengaja merem pas kalian tampil, supaya saya bisa fokus dengerin. Terkadang ini bukan cuma tentang merdu atau enggak, tapi bagaimana saat saya merem, penyanyi itu bisa menjiwai tiap liriknya.”


Lalu gue kasih satu pertanyaan:


“Nah, apakah saat mata saya merem, pesan lagu itu tetap sampai ke saya?”


Ternyata ruangan malah ramai tepuk tangan.


Dalam hati gue:


“Lah, ini yang nyanyi dari tadi siapa? Kenapa pas gue ngomong malah pada tepuk tangan?” 


Hahaha.


Tapi sebenarnya pertanyaannya memang sederhana.


Kalau kita tidak melihat siapa yang bernyanyi, apakah lagunya masih bisa berbicara kepada kita?


Kalau kita tidak tahu siapa artisnya.


Tidak melihat wajahnya.


Tidak tahu jumlah views-nya.


Tidak tahu berapa banyak followers-nya.


Tidak tahu dia terkenal atau tidak.


Lalu kita cuma dikasih audionya.


Apakah kita masih suka?


Buat gue, ini bukan soal menghilangkan visual.


Visual tetap punya tempatnya sendiri.


Pertunjukan langsung memang membutuhkan mata.


Tapi ketika kita sedang mendengarkan sebuah rekaman, mungkin sesekali kita perlu memberikan kesempatan kepada telinga untuk bekerja tanpa terlalu banyak informasi dari luar.


Karena kadang sebelum sebuah lagu sempat kita dengarkan, kita sudah lebih dulu melihat siapa yang menyanyikannya.


Dan dari situ penilaian kita bisa mulai terbentuk.


Mungkin itu juga alasan kenapa penutup mata akhirnya terasa cocok untuk thumbnail Uprealband.


Bukan cuma gaya.


Bukan cuma supaya kelihatan seperti Kura-Kura Ninja.


Tapi sebagai pengingat kecil:


Coba dengarkan dulu.


Jangan biarkan apa yang kita lihat menentukan apa yang seharusnya kita dengar.


Abaikan dulu apa yang kamu lihat.


Buka telingamu, dan rasakan karyanya.


**ROCK N REAL.**

🎧 Dengarkan karya Uprealband di Spotify

Klik di sini untuk mendengarkan

Follow Uprealband:
Instagram: @uprealband
TikTok: @uprealband
Youtube: @Uprealband

03 / RECENT RELEASES

Rilisan
terbaru.

Rilisan terbaru yang masuk ke katalog musik.

Memuat rilisan terbaru…
04 / VIDEO REPRESENTATIVE

Putar
ceritanya.

Tambahkan video yang memang tersedia dari sumber Uprealband.

VIDEO

Sambutlah — Hybrid Official

Video resmi Uprealband dalam format hybrid.

Lihat semua video →
06 / ARSIP

Semua yang
pernah ada.

Potongan visual perjalanan Uprealband dari 2004 sampai sekarang. Jelajahi arsip lengkap di web Arsip Uprealband.

Memuat potongan arsip...
Dokumentasi - 2006
07 / TENTANG

Ini adalah
Uprealband.

Band indie asal Depok sejak 2004. Website ini adalah ruang resmi sekaligus pintu utama menuju karya-karya Uprealband.

Selengkapnya →
PINTU BERIKUTNYA

Masuk lebih
jauh ke KARYA.

Music / Universe / Podcast / Stories / dan karya lainnya.

Masuk ke Karya →

My Instagram

Official Website Since 20 February 2009