Ada lagu yang proses perjalanannya tidak berhenti ketika rekamannya selesai. Bertahun-tahun kemudian, lagu itu bisa ditemukan kembali, dioprek lagi, direkonstruksi, bahkan membuka cerita yang lebih luas tentang perjalanan kreatif sebuah band.
Itulah salah satu cerita di balik lagu “Kasih”, sebuah karya yang proses rekamannya sudah dimulai sebelum Uprealband berdiri pada 2004.
Berawal Sebelum Uprealband Berdiri
Jauh sebelum Uprealband resmi berdiri, proses rekaman “Kasih” sudah dimulai. Lagu ini kemudian melewati fase pengerjaan berikutnya ketika Uprealband telah memiliki studio sendiri.
Pada masa itu, proses produksi musik berjalan mengikuti perangkat, kemampuan, dan kesempatan yang tersedia. Materi yang sudah ada tidak selalu berhenti pada satu versi. Ada kesempatan untuk mengoprek kembali, mencoba pendekatan lain, dan mengembangkan hasil sebelumnya.
“Kasih” menjadi salah satu jejak dari proses tersebut.
Dari Upreal Studio Menjadi Markas Studio
Ketika Uprealband memiliki studio sendiri, materi “Kasih” kembali dioprek di Upreal Studio.
Dalam perkembangannya, Upreal Studio berganti nama menjadi Markas Studio. Perubahan nama ini bukan berarti lahirnya studio yang sama sekali berbeda, melainkan kelanjutan dari perjalanan studio tersebut.
Pada fase berikutnya, Obhik juga menjalani proses belajar mixing dan mastering. Kemampuan produksinya berkembang seiring tersedianya perangkat PC dan peralatan yang semakin memadai.
Di dalam rekaman “Kasih” terdapat unsur sampled cello, suara synthesizer atau organ, serta efek suara petir. Musiknya dibuat oleh Obhik, sementara isian gitar dikerjakan oleh Jon Fadly.
Bagi perjalanan produksi musik, hal ini penting karena sebuah rekaman bukan hanya hasil akhir. Di baliknya ada proses pengerjaan, pilihan aransemen, percobaan, dan perkembangan kemampuan dari waktu ke waktu.
Ketika Rekaman Lama Bertemu AI
Pada 2026, rekaman “Kasih” ditemukan kembali dalam CD DEMO lama. Sebelum rekaman aslinya ditemukan, Bany sudah merekonstruksi lagu tersebut menggunakan AI berdasarkan ingatannya, kemudian memublikasikannya di kanal YouTube Bany Music Lab.
Penemuan rekaman asli memberikan konteks baru. Kini ada materi rekaman yang benar-benar tersimpan dari masa lalu, sekaligus versi rekonstruksi yang dibuat dengan bantuan teknologi masa kini.
Keduanya berasal dari konteks berbeda. Rekaman lama merepresentasikan hasil proses produksi pada masanya, sedangkan rekonstruksi AI merupakan upaya menghidupkan kembali lagu berdasarkan ingatan.
AI membantu membuka kemungkinan baru, tetapi tidak mengubah kenyataan bahwa perjalanan lagu ini sudah dimulai jauh sebelum teknologi tersebut digunakan.
Dari Eksperimen Musik Menuju GIG MODE
Perjalanan Uprealband juga tidak hanya berkaitan dengan bagaimana sebuah lagu direkam. Ada eksplorasi lain dalam cara musik disajikan dan cerita disampaikan.
Dalam album Evolution, misalnya, terdapat pendekatan vokal berbentuk monolog pada lagu “Aku Bukan Dia” dan “Kala Malam”. Keduanya menunjukkan bahwa penyampaian cerita dalam karya Uprealband tidak selalu harus dilakukan melalui nyanyian konvensional.
Bertahun-tahun kemudian, pendekatan bercerita itu berkembang dalam format GIG MODE.
GIG MODE memperluas pengalaman mendengarkan melalui percakapan, dialog, tanggapan, suasana penonton, dan atmosfer pertunjukan yang dirancang menyerupai penampilan langsung. Musik tidak hanya menjadi rangkaian lagu, tetapi juga bagian dari sebuah pengalaman yang memiliki konteks dan alur.
Tentu saja, “Kasih” bukan GIG MODE, dan rekaman sebelum 2004 itu bukan bukti bahwa format GIG MODE sudah hadir sejak awal. Hubungannya terletak pada perjalanan kreativitas Uprealband yang terus berkembang, dari penggarapan lagu hingga eksplorasi cara menyajikan musik dan cerita.
AI Bukan Titik Awal Perjalanan
Ketika AI mulai digunakan dalam proses kreatif Uprealband, produktivitas dan kemungkinan eksperimen memang semakin luas. Rekonstruksi lagu, pengolahan vokal, pengembangan aransemen, hingga eksplorasi format seperti GIG MODE dapat dilakukan dengan pendekatan yang berbeda dari masa lalu.
Namun, melihat perjalanan ini hanya dari keberadaan AI berarti melewatkan bagian penting dari sejarahnya.
Sebelum AI, sudah ada proses rekaman “Kasih”. Ada Upreal Studio yang kemudian menjadi Markas Studio. Ada proses belajar mixing dan mastering. Ada eksperimen aransemen, monolog dalam lagu, dan berbagai pendekatan kreatif yang berkembang sesuai zamannya.
Teknologi masa kini bukan pengganti seluruh perjalanan tersebut. Ia menjadi bagian terbaru dari rangkaian proses yang sudah berlangsung lama.
Sebuah Lagu, Banyak Fase Perjalanan
Ketika “Kasih” ditemukan kembali, yang muncul bukan hanya kesempatan mendengarkan rekaman lama. Ada kesempatan untuk melihat bagaimana sebuah karya melewati berbagai fase: dimulai sebelum Uprealband berdiri, dioprek kembali di studio sendiri, menjadi bagian dari perjalanan produksi Obhik, lalu kembali hadir dalam konteks baru ketika AI mulai digunakan.
Dari sana, kita bisa melihat hubungan yang lebih luas dengan perkembangan kreativitas Uprealband, termasuk eksplorasi penyampaian cerita yang kemudian berkembang dalam GIG MODE.
AI datang belakangan. Perjalanan kreatifnya sudah berjalan lebih dahulu.
Rekaman “Kasih” menjadi salah satu jejaknya, sementara GIG MODE memperlihatkan bagaimana eksplorasi tersebut terus bergerak ke bentuk yang berbeda.
Perangkat berubah. Kemampuan berkembang. Cara menyajikan karya ikut berubah. Namun, untuk memahami apa yang dilakukan Uprealband hari ini, kita tetap perlu melihat perjalanan yang membawanya sampai ke titik ini.
Arsip, karya, dan perjalanan Uprealband dapat ditelusuri melalui Uprealband.com.
