UprealBand, yang sering disebut April Band, adalah band indie asal Kota Depok. Band ini dibentuk bukan sekadar untuk bermain musik, tetapi juga tentang menjaga identitas dan cara berpikir dari setiap personilnya: Bany di vokal, Jon di gitar, Gerry di bass, dan Apoy di drum.
Beberapa waktu lalu, Bany sempat chat Gerry:
“Lu inget Ger, gue pernah ngambek pas latihan? Dulu gara-gara apa ya?”
Gerry ternyata masih ingat jelas.
Kejadiannya sekitar 2004 sampai 2007, saat UprealBand sedang latihan di Markas Studio UprealBand di Depok.
Markas Studio ini bukan studio rental. Studio tersebut dibangun sendiri oleh UprealBand sekitar 2004 sampai 2005 dari hasil usaha sablon mandiri mereka.
Di sanalah banyak latihan, diskusi, dan proses perjalanan musik UprealBand berlangsung.
Pada periode itu UprealBand mendapat kesempatan menjadi band pembuka sebuah konser group band nasional.
Karena dibayar untuk tampil, mereka berinisiatif membawakan gabungan lagu populer dan karya sendiri untuk menghibur penonton.
Namun saat latihan, muncul masalah.
Bany merasa beberapa lagu populer yang sedang dipersiapkan sangat tidak nyaman dibawakan.
Bukan karena malas atau tidak mau mengikuti kebutuhan acara.
Persoalannya adalah karakter vokal setiap manusia memang berbeda.
Range berbeda.
Warna suara berbeda.
Napas berbeda.
Artikulasi berbeda.
Dan ketika seorang vokalis dipaksa terlalu jauh keluar dari rentang alaminya, hasilnya bisa terasa kaku dan tidak natural.
Di tengah latihan, Bany akhirnya keluar dari studio dan berteriak:
“VOCAL BUKAN MESIN!”
Gerry kemudian menyusul keluar dan berkata santai:
“Udah, nyanyiin yang lu nyaman aja.”
Event tetap berjalan.
UprealBand tetap membawakan lagu populer, tetapi juga tetap membawakan karya sendiri.
Lucunya, setelah tampil, EO acara malah memberikan komentar kepada Bany:
“Ngapain lu bawain lagu orang? Gue bayar lu buat nyanyiin lagu UprealBand!”
EO tersebut bahkan menyuruh Bany melihat rekaman handycam penampilan mereka, karena menurutnya karakter vokal Bany justru lebih terasa ketika membawakan karya asli UprealBand.
Kalimat “VOCAL BUKAN MESIN” kemudian menjadi bagian dari cerita UprealBand.
Bukan berarti vokal tidak boleh dibantu teknologi.
Maksudnya adalah vokal manusia tidak bisa diperlakukan seperti mesin yang tinggal dipaksa mengikuti nada.
Vokal punya range, warna suara, napas, artikulasi, ekspresi, dan karakter.
Lalu zaman berubah.
Teknologi berkembang.
Sekarang ada AI.
Bany memanfaatkan teknologi ini untuk memvisualisasikan dan mengembangkan sketsa lagu-lagu UprealBand yang sudah ada, termasuk materi yang sebelumnya belum sempat dirilis.
Namun AI bukan otomatis menjadi hasil akhir.
Justru proses kurasinya semakin ketat.
Banyak hasil generate yang secara teknis terdengar sangat bagus, tetapi terasa terlalu “jago”.
Terlalu mulus.
Terlalu banyak cengkok.
Terlalu sempurna.
Secara teknis mungkin bagus, tetapi belum tentu mencerminkan karakter vokal Bany yang bertenaga dan tegas, terutama pada karakter chest voice-nya.
Karena itu, dari ribuan kredit AI yang digunakan, sekitar 95 persen hasil bisa saja dibuang hanya untuk mencari sebagian kecil hasil yang terasa jujur, pas, dan sesuai dengan karakter vokal yang memang dicari.
Dan hasil yang lolos pun tidak langsung digunakan begitu saja.
Track vokal tersebut kemudian masuk ke proses produksi menggunakan DAW (Digital Audio Workstation) untuk editing, pengaturan dinamika, penyesuaian frekuensi, mixing, dan berbagai proses produksi lainnya.
Bahkan untuk menjaga kejujuran kepada pendengar, UprealBand membuat batas yang jelas.
Kalau hasil generate AI secara teknis sangat bagus tetapi karakternya terlalu mulus atau terlalu berbeda dari karakter vokal Bany, karya tersebut bisa dirilis sebagai “AI Version”.
Tetapi kalau hasilnya lolos kurasi ketat, karakter vokalnya sesuai, dan kemudian diolah penuh melalui proses produksi manusia, karya tersebut baru masuk kategori “Hybrid”.
Nah, ketika Bany dan Gerry sekarang membicarakan perkembangan teknologi itu, mereka malah teringat kejadian lama di Markas Studio.
Bany tertawa:
“Hahaha... sekarang AI ternyata bisa nyanyi, Ger.”
Gerry menjawab:
“Iya juga ya, pas kemarin lu tunjukin lagu UprealBand yg belum sempet rilis lu jajal generate pakai AI...”
WKWKWK.
Kalau dipikir-pikir memang ada ironi lucu di situ.
Dulu Bany berteriak:
“VOCAL BUKAN MESIN!”
Sekarang justru ada teknologi yang bisa membantu menghasilkan vokal.
Tapi bukan berarti Bany menelan ludahnya sendiri.
Yang berubah adalah teknologinya, bukan prinsipnya.
Yang dimaksud Bany sejak dulu bukan bahwa mesin tidak akan pernah bisa menghasilkan suara vokal.
Yang dia maksud adalah vokal manusia tidak bisa diperlakukan seperti mesin yang tinggal dipaksa mengikuti nada.
Dan sampai sekarang prinsip itu masih berlaku.
AI boleh menghasilkan bahan.
Manusia tetap memilih.
Manusia tetap mengarahkan.
Manusia tetap mengolah.
Dan hasil akhirnya tetap harus punya rasa dan karakter.
Pada akhirnya, ada satu hal yang jauh lebih penting untuk dijaga: identitas UprealBand itu sendiri.
Dulu, setelah sebuah penampilan, EO yang mengundang UprealBand pernah mengatakan kepada Bany:
“Gue bayar lu buat nyanyiin lagu sendiri. Lu lebih pantes bawain karya UprealBand.”
Komentar sederhana itu menunjukkan bahwa karakter UprealBand ternyata sudah bisa dirasakan orang lain sejak dulu.
Dan sekarang ukurannya tentu bukan cuma EO tersebut.
Ada orang-orang yang pernah mendengar lagu UprealBand diputar di radio.
Ada yang pernah menyaksikan UprealBand manggung.
Ada yang mengenal lagu-lagunya sejak era 2000-an.
Bahkan mungkin masih ada yang menyimpan CD fisik album EVOLUTION yang dirilis pada 2010.
Mereka pernah punya gambaran sendiri tentang seperti apa bunyi dan karakter UprealBand.
Maka jangan sampai suatu hari, ketika mendengar karya UprealBand masa kini, mereka justru berhenti sebentar lalu berkata:
“Kayaknya ini bukan UprealBand yang pernah gue kenal deh.”
Nah...
Itu baru bahaya.
Karena perkembangan teknologi bukan berarti identitas ikut diganti.
AI boleh membantu.
DAW (Digital Audio Workstation) boleh semakin canggih.
Cara produksi boleh berubah.
Aransemen boleh berkembang.
Dan UprealBand tentu tidak harus terdengar persis seperti tahun 2004 atau seperti album EVOLUTION tahun 2010.
Justru musik harus punya ruang untuk tumbuh.
Tetapi di balik semua perubahan itu harus tetap ada sesuatu yang membuat pendengar lama berkata:
“Nah... ini UprealBand.”
Bukan karena sound-nya harus sama.
Bukan karena aransemennya harus sama.
Bukan pula karena teknologinya harus seperti dulu.
Tetapi karena karakter dan identitasnya masih terasa.
Itulah tantangan UprealBand di era sekarang:
Bukan mempertahankan masa lalu, tetapi berkembang tanpa kehilangan identitas.
UprealBand, band indie asal Kota Depok sejak 2004.
