Seminggu lalu muncul satu masalah yang kelihatannya sederhana, tapi ternyata membawa saya masuk ke sesi oprek hampir 12 jam. 😂
Dua PC yang digunakan dalam workflow harus melakukan sinkronisasi data. Masalahnya, proses sinkronisasi hanya bisa berjalan kalau kedua PC dalam kondisi menyala.
Kebetulan aktivitas kerja membuat saya sering berada sekitar 35 kilometer dari rumah. Jadi ketika sedang berada di tempat kerja, muncul masalah sederhana:
Bagaimana menyalakan PC di rumah dari jauh?
Awalnya dicoba menggunakan Wake on LAN.
Ternyata motherboard yang digunakan tidak mendukung.
Gagal.
Minta bantuan anak-anak atau istri untuk menyalakan PC sebenarnya bisa, tetapi rasanya kurang praktis kalau setiap kali harus memberikan instruksi teknis. Apalagi ketika kebutuhan itu muncul di saat yang waktunya terbatas.
Kemudian muncul ide menggunakan relay.
Kalau tombol power PC pada dasarnya hanya membutuhkan kontak sesaat, secara logika harusnya fungsi tersebut bisa digantikan relay.
Mulailah mencari solusi.
Ternyata sekarang sudah banyak modul relay yang bisa dikendalikan melalui Wi-Fi. Kalau relay sudah bisa dikontrol lewat jaringan, berarti secara teori bisa diintegrasikan dengan sistem smart assistant yang sudah ada.
AI ikut dipakai untuk mencari kemungkinan solusi.
Konsepnya ketemu.
Modul dibeli.
Weekend langsung eksekusi.
Solder, pasang kabel, setting, tes.
Berhasil.
PC bisa dinyalakan dari jarak jauh.
Tapi tentu saja cerita tidak berhenti di situ. 😂
Internet Harus Dipastikan Sehat
Sebelum terlalu percaya diri dengan sistem remote ini, muncul pertanyaan berikutnya:
Bagaimana kalau ternyata koneksi internetnya sendiri tidak stabil?
Akhirnya kabel LAN ikut diperiksa. Router dibongkar setting-nya. Password admin dari penyedia internet dicari. Jalur koneksi dites satu per satu.
Setelah diperiksa, ternyata koneksi dari penyedia internet sebenarnya baik-baik saja.
Masalah justru ditemukan di router yang digunakan sendiri.
Port WAN ternyata menjadi bottleneck dan membuat koneksi mentok di sekitar 100 Mbps.
Jalurnya kemudian diubah.
Tes lagi.
Hasilnya:
300 Mbps meluncur stabil.
Baru bisa agak tenang.
Karena sistem remote sebagus apa pun tidak akan berguna kalau fondasi jaringan masih bermasalah.
PC Sudah Bisa Dinyalakan, Tapi Benar-benar Nyala atau Tidak?
Masalah berikutnya muncul.
Kalau PC sudah dinyalakan dari jarak jauh, bagaimana memastikan PC benar-benar hidup?
Jawabannya:
CCTV.
Kebetulan ada beberapa CCTV yang sebelumnya sudah dimiliki.
Daripada membeli lagi, yang ada dimanfaatkan.
Oprek.
Setting.
Tes akses dari jauh.
Berhasil.
Sekarang kondisi PC bisa dipantau dari jarak jauh.
Jadi sistemnya mulai terbentuk:
PC bisa dinyalakan → kondisi bisa dipantau → PC bisa diakses.
Tetapi justru dari sini muncul pertanyaan yang lebih penting.
Kenapa Dua PC Ini Harus Sinkron?
Karena yang disinkronkan bukan sekadar file.
Dalam workflow produksi musik terdapat banyak preset, template, setting, dan data kerja yang sudah disiapkan sebelumnya.
Misalnya ingin membuat project dengan vibes akustik.
Tidak perlu selalu memulai dari nol.
Tinggal memilih template atau preset yang sebelumnya sudah dibuat, diuji, dan terbukti cocok.
Project baru tinggal dibuka.
Template dipanggil.
Kemudian dilakukan sedikit revisi sesuai kebutuhan lagu.
Hal yang sama berlaku dalam workflow mixing dan mastering.
Preset dan template yang sudah teruji tidak perlu dibuat ulang setiap kali memulai project.
Ketika data tersebut tersedia di kedua PC, pekerjaan bisa dilanjutkan di PC mana pun tanpa harus kembali ke garis start.
Dan di sinilah sinkronisasi menjadi penting.
Karena yang ingin dihemat sebenarnya bukan sekadar ruang penyimpanan atau waktu transfer file.
Yang ingin dipangkas adalah waktu produksi.
Bayangkan setiap kali berpindah PC harus mencari preset lagi.
Membuat template lagi.
Setting ulang lagi.
Mengingat kembali konfigurasi yang sebelumnya sudah pernah dibuat.
Waktu yang seharusnya dipakai untuk membuat musik akhirnya habis untuk mempersiapkan pekerjaan yang sebenarnya sudah pernah diselesaikan.
Jadi sinkronisasi ini pada akhirnya bukan hanya soal data.
Ini tentang menjaga workflow tetap siap digunakan.
Lalu Muncul Ide Memanfaatkan Waktu Perjalanan
Setelah PC bisa dinyalakan dan dikontrol dari jauh, muncul pertanyaan berikutnya.
Perjalanan pulang-pergi hampir satu jam.
Kenapa waktu tersebut tidak dimanfaatkan?
Data yang harus disinkronisasi bisa beberapa GB, bahkan bisa mencapai puluhan GB.
Kalau proses sinkronisasi baru dimulai setelah sampai di rumah atau tempat kerja, waktu kembali terbuang untuk menunggu.
Akhirnya dicari cara supaya kedua PC bisa dikontrol melalui HP.
Berhasil.
Workflow-nya kemudian berubah.
Sebelum berangkat:
Nyalakan PC pertama dari jauh.
Nyalakan PC kedua dari jauh.
Akses kedua PC melalui HP.
Mulai sinkronisasi data.
Kemudian berangkat.
Selama perjalanan sekitar satu jam, kedua PC bekerja sendiri.
Begitu sampai tujuan, tinggal cek.
Kalau sinkronisasi selesai:
Done.
PC yang sudah tidak diperlukan bisa dimatikan dari HP.
Sederhana, tapi efeknya cukup besar.
Waktu perjalanan berubah menjadi waktu kerja komputer.
Hampir 12 Jam Oprek
Semua proses ini akhirnya memakan waktu hampir 12 jam.
Bongkar kabel.
Solder.
Setting.
Tes.
Gagal.
Cari tahu.
Coba lagi.
Menemukan masalah baru.
Cari solusi lagi.
Sampai akhirnya satu per satu semuanya tersambung.
Kalau dilihat dari luar, mungkin ada yang berpikir:
> “Kenapa harus seribet itu? Tinggal nyalakan PC.”
Dan memang benar.
Kalau hanya dilihat dari satu kejadian, sistem seperti ini terlihat berlebihan.
Tetapi ketika waktu semakin terbatas, manfaatnya mulai terasa.
Karena yang sebenarnya ingin dihemat bukan cuma beberapa menit.
Yang ingin dihemat adalah waktu yang terus berulang.
Kalau satu workflow bisa dibuat sekali dan kemudian menghemat waktu berkali-kali, 12 jam yang digunakan untuk membangun sistem tersebut akhirnya terasa masuk akal.
Mungkin Ini Memang Salah Satu Jurus UprealBand Selama Ini
Di titik ini muncul sebuah pemikiran.
Jangan-jangan, tanpa sadar, pola seperti ini memang sudah menjadi salah satu cara UprealBand berjalan selama ini.
Semua personel punya kesibukan masing-masing.
Waktu bertemu tidak selalu banyak.
Waktu untuk produksi juga tidak selalu ideal.
Tapi berbagai hal tetap bisa berjalan karena pekerjaan yang sudah pernah dilakukan tidak selalu harus dimulai dari nol.
Arsip disimpan.
Materi lama tetap tersedia.
Template dan workflow bisa digunakan kembali.
Hal-hal yang sudah pernah dibuat dan terbukti bekerja bisa menjadi fondasi untuk pekerjaan berikutnya.
Sekarang teknologi hanya memperluas cara tersebut.
Sinkronisasi membuat data tersedia di dua tempat.
Remote access membuat PC bisa diakses dari jauh.
Smart system membuat perangkat bisa dikontrol tanpa harus berada di lokasi.
AI membantu mencari solusi ketika menemukan masalah teknis.
DIY membuat semuanya bisa disesuaikan dengan kebutuhan tanpa harus membeli sistem mahal.
Teknologinya berubah.
Tapi hasil yang dicari tetap sama:
Jangan buang waktu mengulang sesuatu yang sebenarnya sudah pernah diselesaikan.
Karena Tujuan Akhirnya Bukan Teknologi
Buat UprealBand, teknologi bukan tujuan akhir.
Remote PC bukan tujuan akhir.
Sinkronisasi bukan tujuan akhir.
Smart home juga bukan tujuan akhir.
Semua itu hanya alat.
Tujuan akhirnya jauh lebih sederhana:
Musik tetap jalan.
Pekerjaan tetap jalan.
Keluarga tetap punya waktu.
Dan masih ada waktu untuk menjalani kehidupan di luar dua hal tersebut.
Kalau perjalanan satu jam bisa sekaligus menjadi waktu sinkronisasi, kenapa tidak?
Kalau template yang sudah dibuat bisa langsung digunakan lagi, kenapa harus membuat ulang?
Kalau PC bisa dinyalakan dari jauh, kenapa harus menunggu sampai berada di depannya?
Kalau pekerjaan bisa dibuat lebih efisien, kenapa harus menghabiskan waktu untuk pekerjaan yang sebenarnya bisa diotomatisasi?
Pada akhirnya, semua kembali ke satu hal:
waktu.
Karena waktu yang berhasil dihemat dari satu workflow bisa digunakan untuk hal lain.
Musik.
Pekerjaan.
Keluarga.
Studio.
Dan kehidupan yang berjalan di antaranya.
Masih Ada Musuh Terakhir
Tentu saja sistem ini belum sempurna.
Masih ada musuh klasik:
mati listrik. 😂
Router sudah menggunakan UPS mini, sehingga setidaknya jaringan dan CCTV masih punya cadangan daya.
Belum cukup untuk mempertahankan PC tetap bekerja, tetapi minimal kondisi lokasi masih bisa dipantau dari jauh ketika listrik mati.
Dan setelah melihat berbagai solusi remote yang tersedia, ada juga satu masalah lain:
harga.
Beberapa solusi memang praktis, tetapi untuk kebutuhan seperti ini terasa cukup overprice.
Akhirnya pendekatannya kembali sederhana:
Manfaatkan perangkat yang sudah ada.
Beli komponen seperlunya.
Cari solusi.
Oprek.
Tes.
Kalau berhasil, dipakai.
Kalau gagal, cari jalan lain.
Bukan membangun sistem paling mahal.
Bukan juga mengejar teknologi paling canggih.
Tapi membangun sistem yang memang berguna untuk kehidupan sehari-hari.
UprealBand Tetap Manyala
Mungkin itu juga yang membuat banyak hal di UprealBand masih bisa berjalan meskipun masing-masing punya kesibukan.
Bukan karena punya waktu yang tidak terbatas.
Justru karena waktunya terbatas, maka workflow harus dibuat semakin efisien.
Pekerjaan yang sudah selesai jangan dikerjakan ulang.
Data jangan dibuat terpisah tanpa alasan.
Template yang sudah teruji jangan dibuang.
Workflow yang sudah terbukti jangan selalu dimulai dari nol.
Dan teknologi jangan digunakan hanya karena terlihat keren.
Gunakan kalau memang bisa memangkas waktu dan membuat pekerjaan lebih ringan.
Hampir 12 jam ngoprek mungkin terlihat seperti waktu yang panjang.
Tapi kalau setelahnya proses produksi menjadi lebih cepat, perjalanan bisa sekaligus menjadi waktu sinkronisasi, dan pekerjaan bisa dilanjutkan tanpa harus menunggu...
rasanya cukup sepadan.
Karena akhirnya yang diinginkan sederhana:
Musik jalan.
Kerjaan jalan.
Keluarga jalan.
Waktu untuk dunia lain tetap ada.
Dan kalau semua itu masih bisa berjalan di tengah kesibukan masing-masing...
Jangan-jangan memang ini salah satu jurus UprealBand selama ini.
Bikin sistemnya supaya bisa terus jalan.
Dan satu hal yang pasti...
UprealBand tetap manyala. 🔥🎸
