Di atas panggung, penonton mengenal Bany sebagai sosok yang energik. Ia jarang diam. Berjalan ke kanan dan kiri, menghampiri penonton, sesekali turun mendekati barisan depan, lalu kembali berdiri di depan mikrofon sambil terus bernyanyi. Energi itu sudah menjadi bagian dari karakter UprealBand sejak band ini berdiri.
Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa di balik langkah-langkah itu pernah ada perjuangan panjang yang membekas hingga hari ini.
Awal Sebuah Perjuangan
Semuanya bermula dari benjolan di sisi lutut Bany. Awalnya terlihat biasa, tetapi lama-kelamaan ukurannya semakin membesar. Saat berdiri, benjolan itu tampak jelas. Saat berbaring, ukurannya mengecil.
Yang paling mengganggu justru aktivitas sehari-hari.
Gesekan kain celana pada benjolan itu sering menimbulkan rasa nyeri. Berdiri terlalu lama membuat kaki terasa pegal. Hal-hal sederhana yang bagi orang lain mungkin biasa saja, menjadi tantangan tersendiri bagi Bany.
Setelah menjalani pemeriksaan, dokter memutuskan bahwa tindakan operasi perlu dilakukan.
Operasi Pertama
Pada tahun 2004, Bany menjalani operasi pertama di RSUD Pasar Rebo.
Masa pemulihan tentu tidak singkat. Saat itu UprealBand masih aktif bermusik dan mulai sering tampil di berbagai acara.
Namun tidak ada satu pun personel yang memaksa keadaan.
Jadwal latihan maupun panggung disesuaikan. Bila harus menunggu, maka semuanya memilih menunggu.
Karena bagi UprealBand, kesehatan sahabat sendiri jauh lebih penting daripada mengejar jadwal manggung.
Operasi Kedua
Perjalanan ternyata belum selesai.
Empat tahun kemudian, pada 2008, Bany kembali harus menjalani operasi kedua di RSCM Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta untuk menangani masalah pada pembuluh darah di sekitar lutut.
Sebelum operasi dilakukan, dokter melakukan pemeriksaan menggunakan zat kontras untuk memetakan kondisi pembuluh darah.
Ada satu kejadian yang sampai sekarang masih menjadi cerita keluarga.
Selesai menjalani CT Scan, Bany merasa dirinya masih cukup kuat berjalan. Ia pun memilih kembali sendiri ke kamar rawat.
Tak lama kemudian, seorang perawat datang membawa kursi roda.
"Lho... pasiennya mana?"
Ternyata pasien yang hendak dijemput sudah lebih dulu sampai di kamar.
Alhasil, Bany pun mendapat omelan. Bukan karena berjalan sendiri itu dilarang semata, tetapi karena petugas khawatir terjadi sesuatu selama perjalanan.
Kalau mengingat kejadian itu sekarang, justru menjadi cerita yang mengundang tawa.
Belum Pulih, Tetap Berdiri di Atas Panggung
Mengenal Bany, diam bukanlah pilihan yang mudah.
Ada beberapa kesempatan ketika proses pemulihan sebenarnya belum selesai seratus persen, tetapi ia tetap memilih tampil bersama UprealBand.
Sebelum naik ke atas panggung, lutut bekas operasinya dibalut cukup kuat menggunakan perban elastis agar terasa lebih stabil saat bergerak.
Penonton tidak pernah menyadari itu.
Semua tertutup oleh celana panjang motif army yang memang sudah menjadi ciri khas penampilannya sejak dulu.
Di atas panggung, orang hanya melihat seorang vokalis yang penuh energi.
Padahal, di balik celana army itu, ada lutut yang sedang berjuang untuk pulih.
"Awas Kakinya Bang..."
Bertahun-tahun kemudian, UprealBand mengunggah kembali beberapa foto manggung lawas.
Di antara banyak komentar, ada satu komentar sederhana yang langsung membawa semua kenangan itu kembali.
> "Awas kakinya Bang..." 😄
Hanya satu kalimat.
Namun kalimat itu menjadi bukti bahwa ada orang-orang yang masih mengingat perjuangan tersebut.
Kebaikan yang Tak Pernah Diminta
Perjuangan itu bukan hanya dirasakan di atas panggung.
Saat masih bekerja dan setiap hari menggunakan KRL, teman-teman kerjanya sudah sangat mengenal kondisinya.
Tanpa pernah diminta, mereka sering mencarikan tempat duduk lebih dulu.
Bukan karena Bany meminta perlakuan khusus.
Mereka hanya tahu bahwa berdiri terlalu lama membuat kakinya cepat pegal.
Perhatian kecil seperti itulah yang sering kali terasa sangat besar artinya.
Sebuah Kebiasaan yang Bertahan Sampai Hari Ini
Kalau bertemu Bany saat sedang santai, mungkin ada satu kebiasaan yang terlihat sedikit unik.
Ia sering meletakkan kakinya di kursi lain, bangku kecil, atau tempat yang lebih tinggi saat duduk.
Sebagian orang mungkin mengira itu hanya kebiasaan atau bahkan dianggap kurang sopan.
Padahal bukan itu alasannya.
Posisi kaki yang lebih rendah sering membuatnya terasa pegal. Dengan mengangkat kaki sedikit lebih tinggi, rasa tidak nyaman itu berkurang.
Bekas operasi memang sudah lama sembuh.
Tetapi perjalanan itu masih meninggalkan jejak.
Perban yang Menjadi Pengingat
Ada satu kebiasaan lain yang mungkin tidak banyak diketahui.
Perban elastis yang dulu sering digunakan untuk membalut lutut, kadang justru dikenakan di lengan saat tampil.
Bukan sebagai aksesori semata.
Melainkan sebagai pengingat.
Pengingat bahwa tubuh pernah rapuh.
Namun semangat tidak boleh ikut rapuh.
Kami Bukan Sekadar Band
Perjalanan ini mengajarkan satu hal kepada kami.
Sebuah band bukan hanya kumpulan orang yang memainkan musik.
Sebuah band adalah keluarga yang saling menunggu ketika salah satu anggotanya harus melambat.
Hari ini, bekas operasi itu masih ada.
Rasa pegal kadang masih datang.
Namun suara Bany masih terus mengiringi setiap lagu UprealBand.
Karena kami percaya...
Dua operasi mungkin meninggalkan bekas di lutut. Tetapi satu tekad telah membuat langkah itu terus berjalan.
Dan selama semangat itu masih ada, setiap panggung akan selalu menjadi tempat untuk bercerita.
Luka boleh ada. Semangat jangan pernah padam.
