⛰️ Bany @ Ciremai
Era Gondrong, Masa Kuliah
Jauh sebelum Uprealband lahir, sebelum studio gang, sebelum dunia podcast, bahkan sebelum istilah ROCK N REAL ada, Bany yang saat itu masih berambut gondrong dan menjalani masa kuliah, memutuskan ikut mendaki Gunung Ciremai bersama dua rekannya.
Saat itu Bany benar-benar buta soal dunia pendakian. Berbeda dengan kedua temannya yang sudah beberapa kali naik gunung sebelumnya. Bahkan Bany sendiri tidak tahu kalau Gunung Ciremai merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat.
Kakaknya, Obhik, yang sudah lebih sering mendaki gunung, sempat khawatir. Maklum, sejak kecil Bany dikenal cukup sering sakit-sakitan. Namun kekhawatiran itu tidak terlalu dipikirkan. Seperti banyak anak muda pada masa itu, yang penting berangkat dulu, urusan nanti dipikirkan sambil jalan.
Perjalanan dimulai dari Kuningan. Dari sana mereka naik mobil Elf menuju Linggarjati, titik awal pendakian. Bany sendiri seingatnya tidak mendapat bagian barang yang terlalu berat. Hehe.
Saat malam tiba, pendakian dimulai. Dalam gelap, cahaya senter hanya menerangi beberapa meter di depan. Jalur terasa seperti tidak ada ujungnya. Anehya, justru karena tidak bisa melihat seluruh tanjakan di depan, langkah demi langkah masih terasa mungkin untuk dijalani.
Namun ketika pagi mulai datang dan matahari mulai menerangi jalur, kenyataan mulai terlihat.
Ternyata tanjakan masih panjang.
Puncak masih jauh.
Dan medan yang sebelumnya tersembunyi kini terlihat jelas.
Ironisnya, terang yang seharusnya memberi harapan justru memperlihatkan betapa beratnya perjalanan yang masih harus ditempuh.
Menjelang puncak, tenaga Bany benar-benar habis. Ia bahkan sempat berkata kepada kedua rekannya agar meninggalkannya saja dan melanjutkan perjalanan tanpa dirinya.
Saat sedang beristirahat, lewat seorang pendaki laki-laki dan seorang pendaki perempuan. Mereka sempat menyarankan untuk beristirahat, tetapi mereka sendiri memilih terus berjalan karena ingin mengejar matahari terbit.
Di situlah muncul sesuatu yang sederhana di dalam kepala Bany.
> "Masa gue kalah sama cewek?"
Kalimat sederhana itu menjadi pemicu terakhir.
Bany dan kedua rekannya akhirnya melanjutkan pendakian. Matahari terbit memang sudah lewat. Mereka tidak berhasil mengejarnya. Namun sekitar pukul 10 pagi, mereka akhirnya berhasil mencapai puncak Gunung Ciremai.
Bagi orang lain mungkin itu biasa.
Tetapi bagi Bany yang waktu kecil sering sakit-sakitan, dan beberapa jam sebelumnya sudah hampir menyerah, keberhasilan itu menjadi kemenangan tersendiri.
Di puncak, seperti anak-anak muda pada zamannya, mereka sempat mengabadikan momen menggunakan kamera Kodak dengan film roll. Bukan era ponsel pintar. Setiap jepretan memiliki nilai karena jumlah film terbatas. Sampai sekarang, kadang-kadang foto-foto itu masih muncul kembali dari album lama, menjadi potongan kenangan dari masa mahasiswa gondrong.
Namun pelajaran terbesar ternyata tidak datang dari puncak.
Saat turun gunung, Bany mulai menyadari sesuatu.
Ketika mendaki dalam gelap, jalan memang tidak terlihat. Ada ketidakpastian. Tetapi justru karena tidak melihat betapa beratnya jalur, mental masih mampu terus melangkah.
Sedangkan ketika hari mulai terang, jalur menjadi jelas. Ada kepastian. Tetapi melihat sendiri tanjakan yang terjal dan panjang justru dapat menggoyahkan mental.
Dari pengalaman itu, Bany mulai memahami bahwa gelap dan terang memiliki nilainya masing-masing.
Gelap tidak selalu buruk.
Terang tidak selalu menyenangkan.
Kadang yang tidak terlihat justru membuat manusia berani melangkah.
Kadang yang terlihat jelas justru menjadi ujian mental.
Positif dan negatif pun demikian.
Semua memiliki nilai masing-masing.
Tinggal bagaimana manusia menemukan hikmah di dalamnya.
Perjalanan turun pun tidak kalah menarik.
Karena terlalu hemat dalam urusan minum, rombongan Bany ternyata masih memiliki persediaan air yang cukup banyak saat mencapai pos pemeriksaan terakhir.
Melihat itu, penjaga gunung malah tertawa.
Logikanya sederhana.
Air dibawa naik untuk diminum selama perjalanan agar beban semakin ringan. Bukan untuk ikut dibawa turun lagi.
Sedangkan rombongan Bany yang saat itu sama-sama masih muda dan tidak terlalu memikirkan hal-hal teknis, malah berhasil menurunkan cadangan air dari atas.
Dan mereka pun ikut tertawa.
Sampai bertahun-tahun kemudian, cerita itu masih dikenang.
Lucunya, sampai tahun 2026, itulah satu-satunya pendakian Bany.
Satu gunung.
Satu summit.
Seratus persen berhasil.
Dan dari satu pendakian itu, Bany membawa pulang lebih dari sekadar foto-foto Kodak.
Ia membawa pulang sebuah cara pandang.
Bahwa dalam hidup, gelap @ mempunyai nilainya sendiri.
Terang @ mempunyai nilainya sendiri.
Berhasil @ mempunyai nilainya sendiri.
Gagal @ mempunyai nilainya sendiri.
Karena pada akhirnya, manusia tidak selalu harus memahami seluruh perjalanan.
Kadang cukup melihat beberapa langkah di depan, lalu terus berjalan.
Dan tanpa disadari, filosofi itu kelak ikut mewarnai perjalanan panjang yang akan dikenal dengan nama:
Kisah ini yg kelak jadi alasan pula kenapa logo uprealband ada logo @ nya
Uprealband. π€⛰️πΈπ ⚫⚪
Komentar
Posting Komentar