MORE VIDEOS, CLICK

" ROCK N REAL - ROCK N RULES "


perjalanan, sejarah uprealband

PERJALANAN SEJARAH UPREALBAND | DARI KARANG TARUNA, MARKAS STUDIO, HINGGA ERA AI HYBRID



Kalau hari ini orang melihat UpRealband masih ada, mungkin sebagian akan mengira semuanya berjalan mulus dari awal.

Padahal kenyataannya tidak begitu.

Cerita ini bahkan dimulai sebelum ada UpRealband.

Sebelum ada studio.
Sebelum ada lagu.
Sebelum ada logo orange yang sekarang masih dipakai sampai hari ini.

Semua bermula dari kehidupan kampung biasa. Era karang taruna.

Saat itu Bany aktif di lingkungan sebagai ketua karang taruna RT. Mading dihidupkan lagi, kegiatan warga dibuat lebih ramai, bahkan uang kas diputar untuk hal-hal kreatif seperti penyewaan komik. Anak-anak kecil yang ikut lomba 17-an semua tetap mendapat bingkisan walaupun kalah, karena menurut Bany saat itu, yang penting mereka ikut merasakan kebersamaan.

Dari masa itulah sebenarnya karakter komunitas UpRealband mulai terbentuk, walaupun nama UpRealband sendiri bahkan belum ada.

Ada kebiasaan bikin sesuatu sendiri.
Ada kebiasaan berpikir kreatif dengan biaya minim.
Ada kebiasaan membangun suasana ramai walaupun fasilitas terbatas.

Dan mungkin tanpa sadar, semua itu menjadi fondasi Markas Studio di masa depan.

Bahkan beberapa istilah dan simbol internal UpRealband juga lahir dari era itu. Salah satunya “Cuek”, yang awalnya muncul dari masa-masa karang taruna dan tongkrongan sebelum semuanya berkembang menjadi lebih besar.

Lalu masuk era awal UpRealband.

Formasi awalnya sangat sederhana. Gerry awalnya bermain drum, Jon bermain keyboard, Bany di vokal. Bahkan di masa tertentu drum sempat memakai FruityLoop karena personil belum lengkap dan semuanya masih serba terbatas.

Tidak ada studio mewah. Tidak ada investor. Tidak ada sponsor besar.

Yang ada hanya semangat bahwa musik harus tetap jalan.

Sampai akhirnya muncul ide membangun studio sendiri.

Saat itu konsep namanya sebenarnya bukan “Markas Studio”.

Nama awalnya adalah “MARK AS STUDIO”.

Spiritnya sederhana tetapi dalam:

“Tandai ini.”
“Kami pernah ada.”
“Lihat kami.”
“Ini jejak kami.”

Namun lucunya, orang-orang malah membaca tulisan itu sebagai “MARKAS STUDIO”, dan akhirnya nama itu justru melekat lebih kuat dibanding konsep awalnya sendiri.

Ironisnya, tempat itu memang akhirnya berubah menjadi markas sungguhan.

Pembangunan studio dimulai sekitar akhir 2004. Bahkan sebelum studio benar-benar dibuat, Bany sempat membuat proposal tertulis kepada ayahnya. Di proposal itu ada aturan tegas: tidak boleh ada narkoba dan tidak boleh ada mabuk-mabukan di dalam studio.

Studio dibangun secara DIY dengan cara yang sekarang kalau diingat terasa absurd sekaligus penuh kenangan.

Ada busa bekas buah dari Pasar Rebo yang dipasang di langit-langit. Ada karpet abu-abu dan finishing merah. Ada kabel Canare Jepang yang dipasang rapi sebelum lantai ditutup. Ada ruang SE, ruang vocal, double kaca, double pintu, hingga ventilasi ala exhaust memakai paralon besar demi menghemat AC.

Semuanya dibangun dengan trial-error.

Kadang sambil pusing karena lem di ruangan tertutup.
Kadang salah hitung.
Kadang teori tidak berjalan sesuai praktik.

Dan justru di situlah pelajarannya muncul.

Markas Studio berdiri di tengah pemukiman padat, bukan di kawasan komersial. Dari situ UpRealband belajar bahwa suara bukan sekadar bunyi, tetapi rambatan.

Bass tetap bisa bocor ke rumah sebelah walaupun ruangan sudah dilapisi karpet dan busa.

Karena itulah hubungan sosial dengan warga menjadi penting. Kadang tetangga diajak ngobrol baik-baik, kadang berbagi akses WiFi, kadang sekadar menjaga hubungan supaya studio tetap bisa hidup tanpa konflik besar.

Markas akhirnya lebih fokus ke recording dibanding studio latihan penuh, karena penggunaan drum terlalu intens bisa membuat getaran merambat ke rumah sekitar.

Tanpa sadar, UpRealband belajar akustik dari kehidupan nyata.

Bukan dari YouTube.
Bukan dari seminar mahal.
Tapi dari pengalaman bertahun-tahun hidup di tengah warga.

Lucunya lagi, walaupun studio terlihat sederhana, hasil audio Markas sering membuat orang salah prediksi.

Salah satu momen yang paling diingat adalah saat mengikuti blind test dari MusikTek.com. Semua file peserta di-rename panitia supaya juri tidak tahu milik siapa file tersebut. File milik Markas mendapat nama “Hummingbird”.

Yang menilai saat itu adalah nama-nama besar di dunia audio Indonesia. Hasilnya cukup mengejutkan. Tiga indikator utama mendapat penilaian bagus, sampai muncul pertanyaan dari para juri:

“Ini studio apaan sih?”

Ironisnya, studio itu hanyalah studio DIY di gang pemukiman.

Bahkan Bany sendiri sering bercanda ketika diundang acara audio:

“Saya owner studio. Jadi jangan tanya teknis audio ke saya heh.”

Karena sebenarnya yang lebih memahami teknis audio mendalam adalah Obhik. Namun Obhik dikenal lebih suka bekerja diam-diam di balik layar.

Banyak workflow album EVOLUTION akhirnya berjalan lancar setelah Bany memahami pola komunikasi Obhik. Bahkan kadang saat nongkrong bareng pun instruksi tetap dikirim lewat inbox chat supaya lebih jelas dan fokus.

Album EVOLUTION sendiri menjadi titik penting dalam sejarah UpRealband.

Bukan hanya evolusi musik, tetapi juga evolusi hidup personilnya.

Setelah album itu selesai, kehidupan mulai berubah. Banyak personil mulai serius memikirkan keluarga, pekerjaan, dan masa depan.

Studio akhirnya diserahkan penuh kepada Obhik karena sejak awal Bany merasa Obhik memang paling cocok menjaga studio. Bahkan jauh sebelum menikah, Bany sudah sempat berpikir tentang surat pernyataan kepemilikan agar nanti tidak menimbulkan masalah keluarga di kemudian hari.

Di balik semua itu, kehidupan personil UpRealband ternyata sangat jauh dari stereotype “anak band santai”.

Jon pernah bekerja sebagai pialang saham, lalu lama menjadi manager perusahaan sebelum akhirnya terdampak pandemi COVID-19 dan kini bergerak di bidang catering.

Bany sendiri bekerja di bidang kantoran sejak lama, berpindah-pindah kampus saat S1 karena pekerjaan, lalu menyelesaikan S2 ketika bekerja di Depok sambil tetap mengurus studio dan album.

Di masa tertentu Bany bahkan meminta pindah kerja ke Depok demi lebih fokus mengurus studio, album EVOLUTION, sekaligus menyelesaikan kuliah S2. Setelah menikah tahun 2012, Bany kembali mengajukan pindah kerja ke Jakarta demi kestabilan ekonomi keluarga karena perbedaan penghasilan yang cukup jauh.

Bahkan urusan percintaan banyak personil pun sering terlambat karena hidup mereka terlalu sibuk dengan studio, pekerjaan, dan proyek komunitas.

Sabtu-Minggu yang seharusnya dipakai pacaran sering habis di Markas Studio.

Dan mungkin karena itulah UpRealband bertahan lama.

Karena yang dibangun bukan sekadar band. Tetapi hubungan manusia yang tumbuh bersama waktu.

Lalu waktu berjalan.

Anak-anak mulai besar.
Kesibukan keluarga mulai lebih stabil.
Rutinitas mulai berubah.

Dan justru di fase itulah muncul trigger yang tidak disangka-sangka.

Suatu hari anak Bany sempat meragukan cerita-cerita lama tentang UpRealband. Bukan menghina, tetapi lebih karena generasi sekarang hidup di era digital yang semuanya harus punya bukti cepat.

“Emang dulu beneran ada?”
“Mana buktinya?”
“Serius segitunya?”

Pertanyaan sederhana itu ternyata memantik sesuatu.

Karena Bany mulai sadar, kalau semua arsip hanya disimpan di kepala dan harddisk lama, lama-lama seluruh perjalanan ini bisa hilang begitu saja.

Orang mungkin tahu nama UpRealband.
Tapi tidak tahu cerita di belakangnya.

Dari situlah perlahan semuanya mulai dibuka kembali.

Video lama dicari.
Dokumentasi lama dibongkar.
Timeline mulai disusun ulang.
Cerita-cerita Markas mulai ditulis.
AI mulai dipakai membantu mengarsipkan semuanya.

Bukan sekadar nostalgia.

Tetapi usaha menjaga jejak agar tidak hilang ditelan waktu.

Dan lucunya, semangat “MARK AS” yang lahir tahun 2004 ternyata kembali hidup di era digital sekarang.

“Tandai ini.”
“Kami pernah ada.”
“Ini jejak kami.”

Bedanya sekarang bukan lagi lewat mading atau CD burn.

Tetapi lewat internet, blog, video, SEO, AI hybrid, dan arsip digital.

Mungkin inilah fase baru UpRealband.

Bukan sekadar comeback musik.

Tetapi usaha menjaga eksistensi agar generasi berikutnya tahu bahwa semua ini pernah benar-benar terjadi.

Karena pada akhirnya, semua perjalanan ini memang kembali ke satu hal:

Eksistensi.

Tentang bagaimana sekumpulan anak tongkrongan dari Depok pernah mencoba meninggalkan tanda bahwa mereka pernah ada.

Salam Eksistensi.

© 2026 Uprealband. All Rights Reserved.

Komentar