MORE VIDEOS, CLICK

" ROCK N REAL - ROCK N RULES "


trik ikutan festival band

Pada tahun 2004, Uprealband baru saja berdiri.
Belum punya nama besar.
Belum punya pengalaman panjang.
Bahkan masih dalam fase mencari bentuk dan karakter musik mereka sendiri.

Namun setahun kemudian, tepat di tahun 2005, mereka sudah nekat ikut Festival Band se-Kota Depok.

Bukan festival kecil tingkat sekolah.
Bukan acara tongkrongan lokal.

Tapi langsung festival skala kota. 😆🎸

Sebuah keputusan yang kalau dipikir sekarang terasa cukup berani, bahkan sedikit nekat.
Band yang baru seumur jagung, tiba-tiba sudah ikut bersaing dengan banyak band lain dari berbagai wilayah Depok.

Namun justru dari kenekatan itulah cerita Uprealband dimulai.

Di tahap penyisihan, setiap band diwajibkan membawakan lagu populer dan lagu karya sendiri. Namun Uprealband tidak memilih jalan aman. Lagu populer yang mereka bawakan diubah aransemennya, intro dipotong, bahkan nuansa musik dibentuk ulang agar terasa lebih dekat dengan karakter mereka sendiri.

Keputusan tersebut cukup berani untuk ukuran band baru. Tetapi dari situlah identitas mulai terbentuk.

Penampilan mereka juga tidak berjalan sepenuhnya normal. Musik sudah dimainkan ketika vokalis belum berada di atas panggung. Beberapa detik terasa kosong sebelum akhirnya Bany masuk di tengah lagu sambil meniup peluit dan langsung mengambil alih suasana. Panggung kecil yang sempit berubah menjadi hidup. Energi bergerak ke mana-mana. Bany tidak bisa diam, berlari ke sisi panggung meski ruang geraknya terbatas.

Di balik panggung, perjalanan Uprealband dibangun dengan cara yang sangat mandiri. Kaos band mereka disablon sendiri. Bahkan simbol “@” sudah digunakan sebagai identitas visual ketika simbol tersebut belum umum dipakai band-band lain. Dari hasil penjualan kaos itulah mereka perlahan membangun studio sendiri.

Dokumentasi video yang masih ada hingga sekarang juga lahir dari perjuangan sederhana. Salah satu personel rela mencicil handycam demi merekam perjalanan mereka. Keputusan kecil itu ternyata menjadi alasan kenapa cerita tersebut masih bisa dilihat kembali hari ini.

Beberapa hari setelah penyisihan, telepon masuk ke studio. Uprealband dinyatakan lolos ke babak final.

Namun babak final ternyata jauh berbeda.

Acara digelar di lapangan terbuka dengan jumlah penonton yang hampir mencapai ribuan orang. Situasi perlahan berubah tidak kondusif. Penonton bergerombol dan berlari ke berbagai arah tanpa pola yang jelas. Beberapa peserta band bahkan harus diamankan ke rumah warga sekitar demi keamanan.

Ketegangan semakin terasa ketika beberapa penonton naik ke atas panggung meminta lagu sambil memberi uang seperti suasana hajatan. Permintaan tersebut tidak dipenuhi, dan tidak lama kemudian gangguan mulai terjadi di bawah panggung. Kabel gitar terganggu. Suara sempat kacau. Situasi menjadi semakin sulit diprediksi.

Puncaknya terjadi ketika terpal penutup sound system dibakar. Acara langsung dihentikan sementara. Suasana berubah total dari festival musik menjadi kondisi yang mencekam. EO akhirnya melakukan koordinasi dan memanggil aparat kepolisian hingga ABRI untuk membantu pengamanan. Panggung dijaga ketat. Event hanya akan dilanjutkan jika kondisi kembali kondusif.

Setelah situasi mulai terkendali, penonton akhirnya sepakat menjaga keadaan tetap aman. Acara kembali berjalan. Aparat ikut berjaga langsung di area panggung.

Dalam kondisi seperti itulah Uprealband akhirnya tampil di babak final.

Namun mereka mengambil keputusan penting. Mereka memilih membawakan lagu karya sendiri dengan nuansa yang lebih tenang agar suasana tidak kembali memanas. Di momen itu, Uprealband belajar bahwa manggung bukan sekadar memainkan musik, tetapi juga membaca keadaan.

Penampilan selesai. Saat itulah MC sempat bercanda sambil tertawa dan menyebut Uprealband sebagai “band paling rapih.” Mungkin karena Bany tampil memakai kemeja dan dasi di tengah suasana festival yang penuh ketegangan. Komentar itu terdengar sederhana, namun akhirnya melekat menjadi bagian dari cerita mereka.

Saat pengumuman pemenang tiba, Uprealband dinyatakan sebagai juara. Bukan juara pertama, tetapi cukup untuk menjadi bagian dari sejarah festival tersebut.

Bagi mereka, malam itu bukan tentang posisi. Yang lebih penting adalah mental yang terbentuk dari pengalaman menghadapi situasi apa pun di atas panggung.

Piala dan piagam penghargaan kemudian dibawa pulang, dibingkai, dan dipajang di studio. Bukan untuk pamer, tetapi sebagai pengingat bahwa mereka pernah melewati masa-masa penuh tekanan dan tetap bertahan sampai akhir.

Dan ternyata cerita tidak berhenti di sana.

EO yang sama mulai sering mengundang Uprealband kembali untuk tampil sebagai guest star di berbagai event berikutnya. Bahkan ketika menjadi band pembuka untuk band tingkat nasional, Uprealband tetap diminta membawakan karya sendiri.

Mereka mulai dibayar untuk tampil. Namun fokus mereka tetap sama: memainkan lagu sendiri dan terus berkembang.

Di beberapa event sekitar Depok, kadang muncul komentar dari band lain, “duh… ada Uprealband lagi.” Tetapi bagi Uprealband, tujuan mereka memang bukan sekadar ikut lomba. Mereka hanya membutuhkan panggung untuk memperkenalkan karya mereka sendiri.

Sampai akhirnya, beberapa tahun kemudian, EO yang dulu mengadakan festival tersebut justru membuat acara khusus bertajuk UPREALBAND ANNIVERSARY. Acara itu menghadirkan berbagai band indie lain dan menjadi ajang reuni beberapa peserta festival tahun 2005.

Panggung yang dulu dipenuhi ketegangan akhirnya berubah menjadi tempat berkumpul kembali.

Uprealband mungkin bukan juara pertama.

Namun nama mereka tetap ada. Tetap muncul. Tetap diingat. Dan perlahan menjadi band yang diperhitungkan.

Karena pada akhirnya, yang bertahan bukan selalu yang menang paling awal.

Tetapi mereka yang terus berjalan.

Rock n Real. 🎸⚡

Komentar